LightBlog

Friday, September 30, 2016

Merindukan Umar bin Khattab

Pemimpin itu menenangkan bukan membuat gelisah, pemimpin itu melayani dan melindungi. Membaca kisah Umar bin Khattab sang Khalifah kedua setelah Abu Bakar RA tidak akan pernah membuat kita berhenti untuk berdecak kagum, sekaligus menjadi tanda tanya besar pada rasa pesimis kita melihat kondisi pada saat ini. Masih adakah sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab?

Siapa yang tidak dibuat kagum dengan kisah Umar RA, ketika dalam ‘blusukannya’ di malam hari mendapati seorang Ibu yang sedang memasak batu demi menenangkan anak-anaknya yang sedang lapar. Kala itu Umar tidak banyak bicara, Umar berlari menuju gudang penyimpanan gandum, memanggul sendiri karung gandum dan memasak langsung gandum tersebut untuk si ibu dan anak-anaknya yang sedang kelaparan, bahkan ketika sahabatnya menawarkan bantuan dengan tegas Umar menjawab “Apakah kau mau memikul dosaku diakhirat kelak karena lalai memperhatikan rakyatku?”.

Sosok Umar bin Khattab benar-benar mengaplikasikan apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan tentang empat sifat yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu Sidiq, Tabligh, Amanah dan Fatanah. Sosok Umar yang ketika dirinya terpilih menjadi Khalifah langsung tertunduk dan gemetar karena merasakan beban berat amanah yang harus dia laksanakan, bahkan dalam pidatonya Umar begitu terbuka meminta diluruskan ketika dirinya melenceng dari perintah Allah dan ajaran Rasulullah SAW. “Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan Rasulnya, bila aku mendurhakai Allah dan Rasulnya, tidak ada kewajiban patuh kepadaku” begitulah penggalan ucapan Umar dalam pidatonya. Sejak terpilihnya menjadi khalifah, Umar tampil menjadi sosok pemimpin yang dicintai dan dirindukan oleh rakyatnya.

Keimanan Kepada Allah
Dalam sejarah tercatat bahwa Umar bukan hanya ditakuti dan disegani oleh musuh-musuhnya, tapi sosok Umar juga ditakuti oleh Iblis. Iblis takut kepada Umar bukan semata-mata karena sosok Umar yang tinggi besar dan juga kuat, tapi lebih dari itu, ketakutan Iblis pada sosok Umar terdapat pada keimanannya yang kuat kepada Allah SWT. Karena keimanannya yang kuat itulah Iblis pun enggan menggoda Umar bahkan berpapasan dengan Umar pun Iblis enggan.

Sudah selayaknya keimanan yang kuat dimiliki oleh seorang pemimpin, agar ia bisa tampil menjadi sosok yang kuat yang tidak mudah goyah ketika ujian keimanan itu datang. Karena sejatinya banyak pemimpin yang jatuh bukan karena harta, tahta dan wanita saja, tapi hal yang paling utama, karena ia melupakan keimanan yang ada pada dirinya.

Sosok Umar juga begitu dicintai oleh rakyatnya karena Umar lebih mementingkan kepentingan rakyatnya dibandingkan dengan kepentingan pribadinya. Seorang pemimpin tidak akan pernah kenyang makan sebelum rakyatnya benar-benar kenyang.

Memilih Pemimpin
Di beberapa daerah termasuk Banten saat ini sedang dalam proses pencarian seorang pemimpin. Pemimpin yang diharapkan mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik. Pemimpin yang bukan sekedar lahir dari hasil demokrasi tapi terpilihnya dia nanti adalah betul-betul karena dia memang layak menjadi pemimpin karena kemampuannya.

Seorang pemimpin sejati tidak lahir secara instan, tapi dia lahir dari proses panjang penuh tempaan. Lihatlah sejarah Founding Father bangsa ini, Soekarno. Bagaimana proses panjang dan melelahkan dilaluinya sebelum dirinya menjadi orang nomor satu di Negara ini. Soekarno menjadi pemimpin di Negara ini karena memang layak dan didukung penuh oleh rakyat karena semangat perjuangannya telah terbukti membuat bangsa ini merdeka dari penjajahan.

Kita hidup di jaman dimana orang-orang bisa seenaknya menjadi pemimpin, hanya mengandalkan harta dan popularitas semuanya bisa terwujud. Menjadi pemimpin bukan hanya soal ambisi, karena banyak orang-orang yang terjebak dengan ambisinya. Sibuk mengumpulkan harta dan mengokohkan kedudukannya menjadikan dia lupa bahwa kelak apa yang diamanahkan kepadanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah SAW mengajarkan empat sifat yang dimilikinya sebagai landasan yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin. Yaitu, Shiddiq (Benar), Amanah (Bisa Dipercaya), Tabligh (Menyampaikan), dan Fathonah (Cerdas). Ke empat sifat itu haruslah satu paket, tidak dipisahkan atau hanya dimiliki dan diamalkan salahsatunya saja.

Seorang pemimpin harus selalu berkata benar. Benar katakan benar, salah katakan salah, tidak ada yang ditutup-tutupi. Cerminan seorang pemimpin sejati yang dicontohkan Rasulullah SAW dan diamalkan penuh oleh sabahatnya Umar bin Khatab adalah apa yang diucapkan sejalan dengan apa yang dilakukannya.

Seorang pemimpin juga harus bisa menanamkan rasa percaya kepada rakyatnya. Jangan sampai ketika seorang pemimpin terpilih justru menimbulkan keraguan pada rakyat yang memilihnya. Rasa pesimis yang tertanam pada manusia biasanya timbul karena adanya keraguan. Kerja keras seorang pemimpin pertama kali adalah bagaimana menanamkan dan membangun rasa kepercayaan rakyat kepada dirinya. Karena mustahil seorang pemimpin bisa bekerja ditengah-tengah kecurigaan rakyat kepadanya.

Sifat berikutnya yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah sifat Tabligh atau menyampaikan. Menyampaikan sesuatu tanpa ada yang dikurangi ataupun ditambahkan. Menyampaikan setiap kebenaran meski rasa pahit yang akan diterimanya. Pemimpin yang bijak layaknya Umar bin khatab ketika memberikan pesan yang tersirat melalui sebuah tulang kepada Amr bin Ash yang pada waktu itu akan menggusur pemukiman seorang Yahudi yang akan dibangun masjid. Umar menyampaikan kebenaran, bahwa haq tetaplah haq dan bathil tetaplah bathil.

Terakhir, seorang pemimpin haruslah cerdas. Cerdas dalam mengelola emosi dan cerdas dalam membuat keputusan. Umar bin Khatab memberikan contoh kecerdasan dalam kisahnya ketika Rasulullah memintanya untuk menjadi negosiator yang diutus untuk melobi orang-orang kafir Quraisy agar mau membuka pintu Mekah, karena pada waktu itu kafir qurais menutup pintu Mekah sehingga kaum muslimin yang sedang beribadah haji tertahan didalam. Umar menolak dengan halus perintah Rasulullah dan malah merekomendasikan Usman bin Affan untuk menjadi negoisator. Pada waktu itu beberapa sahabat mengecam penolakan Umar, Umar dianggap penakut dan tidak taat perintah Rasulullah.

Tahukah dimana letak kecerdasan Umar? Ya Umar cerdas dalam mengelola strategi dan emosi. Umar paham betul sikap dan perangai dirinya yang suka emosi ketika berhadapan langsung dengan kafir Quraisy, dan Umar paham betul kalau drinya bukan seorang negoisator yang baik untuk sebuah lobi-lobi penting, maka dari itu dia meminta sahabatnya Utsman bin Affan untuk menggantikan dirinya, karena Umar tahu bahwa Utsman perangainya lebih halus dan pandai bernegoisasi. Umar tidak memaksakan egonya. Padahal kalau Umar mau dia bisa menjadi pahlawan pada waktu itu.


Kita tidak pernah tahu, pada situasi seperti apa sosok pemimpin adil dan bijaksana seperti Umar bin Khattab muncul. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah ikhtiar mencari pemimpin sejati. Tentu hal tersebut dimulai dari diri kita. Kita sebagai pemilih dibekali kecerdasan untuk menilai dan membuat keputusan. Memilih bukan karena embel-embel bingkisan ataupun bungkusan. Selamat berdemokrasi!


*Tulisan ini telah diterbitkan di Koran Harian Kabar Banten edisi 2 Oktober 2016

2 comments:

  1. Replies
    1. Masih perlu banyak belajar brother. Salah satunya dari antum yg produktif menulis

      Delete

LightBlog