LightBlog

Monday, July 24, 2017

Komitmen dan Fokus

Masih ada yang berpikir bahwa saya berdagang itu hanya sekedar mencari penghasilan tambahan atau lebih parahnya iseng? Baik mari kita bahas dengan hati gembira dan ceria. Anggap tulisan ini hanya sekedar hiburan 😁

Bagi teman-teman yang saat ini bekerja atau beraktifitas, sebagai guru, pegawai bank, PNS, Polisi, Dokter atau bahkan pelajar sekalipun tidak masalah, InsyaAllah saya berusaha untuk tidak akan membahas apapupun pekerjaan atau profesi teman-teman diluar berdagang. Karena apapun yang teman-teman miliki saat ini, jabatan, karir, dan sejenisnya itu adalah tanda kasih sayang Allah masih ada untuk teman-teman.

Yang saya tekankan disini adalah mindset atau pola pikir teman-teman tentang berniaga atau berdagang. Betulkah cara pandang kita bahwa berdagang itu hanya sekedar sampingan atau iseng-iseng berhadiah? Hehehe.

Tahukah teman-teman bahwa segala sesuatu yang dicintai sepenuh hati, cinta tersebut akan berbalik kepada kita. Soal cinta mencintai sesuatu ini Rasul SAW pernah bersabda. “Seseorang itu bersama orang yang dicintainya,”. Itu artinya, akan selalu ada balasan untuk setiap sesuatu yang kita cintai.

Kembali ke soal berdagang. Saya akan sedikit cerita ketika saya masih bekerja aktif sebagai jurnalis di sebuah kantor berita milik BUMN. Ketika masih jadi jurnalis, disela-sela waktu senggang saya saya suka iseng jualan, waktu itu yang saya jual adalah Buku Bacaan, mengenai bagaimana cara saya jualan buku InsyaAllah akan saya bahas di materi ‘Jualan Tanpa Modal’

Waktu pertama iseng jualan buku tersebut cara jualan saya betul-betul seenaknya, pokoknya setiap kali saya ada waktu sisa pasti saya gunakan buat marketing, nawar-nawarin via SMS (karena waktu itu belum ada Whatsapp), lewat facebook maupun secara langsung kepada teman. Alhasil dari iseng dan waktu sisa tersebut saya tidak dapat apa-apa. Dipakai untuk ongkos saya Pandeglang – Jakarta pun setiap kali saya harus ikut rapat redaksi pasti habis bahkan masih kurang kalau dipakai makan :-D. Yaa namanya iseng dan sisa waktu, kadang jualan kadang enggak, waktu ada teman yang sengaja pesan buku pun kadang saya mohon maaf karena sibuk dan gak ada waktu buat mencari pesanan teman tersebut.

Singkat cerita saya bertemu dengan jurnalis senior, yang beliau sukses di karir jurnalistiknya dan sukses di bisnisnya, waktu itu bisnis yang beliau kelola adalah konveksi. Pertemuan kami yang singkat waktu itu saya dingatkan perihal komitemen dengan waktu. Beliau berkata, kita bisa saja beraktivitas apapun diluar pekerjaan kita, yang jadi pertanyaan bisa tidak kita komitmen dengan pembagian waktu antara pekerjaan kita sebagai jurnalis dan aktifitas diluar kita? Semua harus ada ukuran dan takarannya, tidak bisa satu diantaranya diberikan jatah sisa.

Artinya begini teman-teman, yang dibutuhkan dalam berdagang itu adalah komitmen dalam membagi waktu, kalau yang aktifitasnya hanya berdagang, itu tidak perlu dibahas. Yang kita bahas disini adalah mereka yang punya aktifitas lain. Dalam waktu 24 jam yang kita miliki, berapa jam kita bisa membagi waktu untuk aktifitas berdagang, oke, katakanlah 2 jam saja. Nah, itu waktu 2 jam tersebutlah yang harus kita buat komitmen supaya kita benar-benar fokus menjalankannya.

Beda loh teman-teman pengertian antara waktu yang memang sudah kita jatah, dengan waktu sisa. Kalau waktu sisa, ya bisa-bisa kita menyisakan waktunya tersebut. Bisa 2 jam, 1 jam, atau bahkan gak bersisa sama sekali karena kita sibuk dengan pekerjaan dan profesi kita. Kalau waktu jatah yang sudah dibuat komitmen, itu memang sudah ditakar, tidak bisa diganggu gugat, pokoknya selama kita menggunakan waktu jatah tersebut kita akan fokus dengan apa yang kita lakukan saat itu. 

Dan waktu itu pola saya ubah, jam kerja aktif saya sebagai jurnalis yaitu dari jam 8 sampai jam 4 sore. Dari jam 4 sore sampai magrib, saya gunakan untuk menulis dan edit berita. Jadi waktu senggang saya hanya dari jam 5 shubuh sampai jam 8, dari jam 5 shubuh sampai jam 8 tersebut saya gunakan fokus untuk berniaga. Hasilnya berbeda dengan ketika saya masih menggunakan sisa waktu, betul-betul berbeda, hasilnya jauh lebih baik. Kalau saat masih sisa waktu saya jualan ya sekenanya, seenaknya, asal posting asal sebar SMS, tidak pernah memikirkan target, karena satu penyakitnya, saat saya jualan saya tidak focus, masih perang pemikiran dengan pekrjaan saya sebagai jurnalis. Tapi kalau sudah waktu jatah, pikiran saya tidak lari kemana-mana. Intinya hasilnya lebih rapih, dan target jualan saya pun jadi lebih teraarah.

Nah, saatnya teman-teman yang belum fokus menentukan waktu jatah untuk jualan, segera lakukan. Supaya tidak ada lagi bahasa iseng atau istilahnya ngisi kegiatan. Percaya teman-teman, segala sesuatu yang dilakukan dengan iseng apalgi asal-asalan, yaa hasilnya pun tidak bisa kita prediksi, sekenanya, sedapatnya. Bahasa ringannya dapat syukur, gak dapat ya wassalam.

Oke, jadi inti pembahasannya, adalah komitmen terhadap apa yang kita lakukan. Tahukah teman-teman kalau Sandiga Uno, seorang politikus Partai Gerindra sampai saat ini masih jadi pedagang? Tapi karena komitmennya terhadap waktu, Sandi sukses dengan karir politiknya dan sukses pula sebagai pengusaha. Di karir politik Sandi sukses menjadi wakil Gubernur DKI Jakarta dan dari hasil jualannya Sandi sukses membangun asset hingga 3 Triliun.


Ditulis Oleh: Adi Fikri Humaidi - Youngpreneur and Creative Marketing Orlin Indonesia

No comments:

Post a Comment

LightBlog