LightBlog

Tuesday, April 3, 2018

Puisi Sukmawati; Antara Rasa dan Etika



*Oleh: Adi Fikri Humaidi

Sudah bisa dipastikan nama Sukmawati Soekarnoputri akan populer dalam satu atau dua minggu kedepan., mengingat namanya akan sering di sebut publik khususnya oleh netizen karena pembacaan puisinya di acara ‘29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018 yang di anggap menghina syari’at Islam dan suara Adzan.

Penulis pernah membaca sebuah keterangan yang disampaikan oleh Bernando J.Sujibto, seorang penulis sekaligus peneliti, beliau berkata “Jangan pernah takut menulis, namun jangan lupa kau punya tanggung jawab atas apa yang kau tulis”.

Lagi-lagi terjadi, apa yang ditulis dan disampaikan oleh Sukmawati dalam puisinya kembali membuka kisah 1 tahun yang lalu, dimana saat Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memasuki ranah yang sensitif bagi ummat Islam yaitu menyinggung soal syari’at Islam, entah disadari atau tidak ucapan Ahok yang menyinggung salahsatu ayat didalam Al Qur’an berdampak pada dirinya, sehingga kini Ahok harus mendekam di penjara hingga saat ini karena ucapannya yang menyinggung syari’at.

Soal Syari’at Islam jelas penulis berpendapat bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang bisa seenaknya di singgung apalagi jadi bahan perbandingan sampai ujungnya menjadi seolah melecehkan. Yang disampaikan oleh Sukmawati dalam puisinya jelas merupakan hal sensitf khususnya bagi ummat Islam, karena ada dua persoalan syari’at yang disebutkan yaitu adzan dan cadar.

Penulis kurang begitu memahami maksud dan tujuan sebenarnya dari puisi yang ditulis sekaligus dibacakannya tersebut, meski dalam pemberitaan selanjutnya Sukmawati berkata bahwa puisinya itu merupakan sebuah kejujuran dimana saat dia mendengar suara adzan yang dianggap kurang merdu dengan suara ibu-ibu yang berkidung (senandung) yang dianggapnya indah, dalam puisinya tersebut tanpa sadar Sukmawati jadi membandingkan dua aktivitas yang jelas berbeda esensinya.

Membandingkan suara Adzan dengan sebuah senandung jelas sesuatu yang kurang bijak jika kita meninjau dari esensi keduanya. Adzan adalah soal syari’at dimana merupakan sebuah panggilan untuk ummat Islam agar segera melaksanakan sholat, meskipun ada ciri yang lain dari di kumandangkannya suara adzan, yaitu dalam kelahiran dan kematian biasanya ada kumandang adzan. Jadi dalam hal ini adzan bukanlan senandung yang dituntut harus merdu, yang terpenting dari sebuah adzan adalah bacaan dan kalimatnya harus benar dan jelas sesuai syari’at. Sementara sebuah kidung ataupun senandung karena dia merupakan murni yang lahir dari sebuah seni (bukan syari’at). Jadi amatlah tidak bijak membandingkan sebuah syari’at dengan seni. Begitupun saat Sukmawati membandingkan konde dengan cadar. Jelas ini sesuatu yang salah kaprah. Cadar ketentuannya langsung dari syari’at, sementara konde itu adalah budaya yang lahir dari adat istiadat setempat. Ya, adat istiadat setempat, karena sepengetahuan penulis, hanya di Indonesia konde itu ada. Sementara hijab dan cadar itu universal, ada bukan hanya di Indonesia saja, dan penggunaannya sama mengacu ke soal syari’at Islam.

Teringat pelajaran bahasa Indonesia soal etika dalam menulis dan membaca puisi, di antara yang harus diperhatikan adalah Rima, Tipografi, Tema, Unsur Batin, Nada dan Suasana. Dalam kesempatan ini penulis tidak akan membahas semua poin tentang etika menulis dan membaca puisi. Tapi mari kita bahas sebagiannya saja soal tema, nada dan suasana.

Dalam pemilihan tema biasanya penulis puisi akan memilih tema terkini yang sedang ramai dipersoalkan atau tema yang sesuai dengan karakter si pembuat atau pembacanya. Karena nanti ini kaitannya bagaimana sebuah puisi bisa menyentuh saat dibacakan.

pemilihan tema pun harus diperhatikan pula saat membuat rangkaian kata-kata dalam puisinya nanti. Sangat dianjurkan memilih kata-kata yang tidak tendesius, meskipun mungkin dalam hal ini, sebagian seniman menganggap bebas-bebas saja namanya juga seni. Tapi yang perlu diperhatikan dalam hal ini, seni di Indonesia tetap harus memperhatikan etika dan budaya ketimuran yang sopan dan ramah pada sesama.

Selain soal tema perlu diperhatikan pula soal suasana, baik suasana perorangan ataupun suasana sekitar pada saat puisi tersebut dibacakan. Dimana saat ini kita menyadari bahwa Indonesia sedang sensitf sekali dengan isu toleransi beragama. Maka wajar saat mendengar soal syari’at disinggung, secara naluri keagamaan, ummat Islam akan merasa terusik. Diterima ataupun tidak ummat Islam saat ini masih menjadi mayoritas di bumi Indonesia.

Memperhatikan suasana juga penting sekali untuk mereka yang saat ini masih menganggap bahwa orang berkesenian itu sah-sah saja mau menuangkan karyanya seperti apapun. Sekali lagi ini kembali ke seoal etika dan kepekaan seorang seniman tentang arti toleransi yang sebenarnya.

Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi harus menghindarkan terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat (Wikipedia).

Jadi jelas ya, berkesenian itu apapun bentuk dan jenisnya harus memperhatikan etika, terlebih di Indonesia banyak memiliki keberagaman baik dalam soal beragama maupun budaya dan adat istiadatnya. Jangan sampai karena kebebasan dalam berkesenian menjadikan kita lupa memperhatikan apakah nanti sauadara saya yang lain tersinggung dengan apa yang saya lakukan? Jadi tanyakan dulu sama hati dengan suasana yang netral apa efeknya jika karya seni kita di munculkan ke publik.

Bagi masyarakat awam sperti penulis ini cukuplah dalam membuat sebuah karya kita tidak dilandasi dengan kebencian atau ketidaksukaan kepada baik invidu ataupun kelompok. Karena nantinya akan melahirkan sebuah karya yang tendensius dan menyinggung yang hanya akan membuat gaduh suasana.

Sekali lagi, etika dalam seni itu sangat dibutuhkan karena nanti akan membuat seorang seniman lebih bertanggungjawab tentang hasil karyanya.

Diakhir paragraph ini penulis ingin menukil terjemahan ayat Al Qur’an yang dikhususkan untuk para penyair yang dihidup di masa Rasulullah SAW; “Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah dan bahwasannya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezhaliman. Dan orang-orang yang zhalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS Asy-Syu’araa’, 224-227).

Jadi mari kita bijak dalam berkarya dan bertindak. Cukup sudah bikin gaduh Indonesia.

*Penulis adalah mahasiswa STIA Banten, Aktif di Komunitas ODOJ Pandeglang.

1 comment:

  1. epsa casino best bonus 2020
    epsa casino best bonus 2020 · epsa casino best bonus 2020 · epsa casino best 카지노사이트 bonus 2020 · epsa casino best bonus 2020 septcasino · epsa casino best bonus 2020 · epsa casino best bonus 2020 · epsa 메리트 카지노 쿠폰 casino best bonus

    ReplyDelete

LightBlog